Apa itu Carbon Trading, Cara Kerja, dan Manfaatnya !

Apa itu Carbon Trading – Perdagangan karbon adalah jual beli kredit karbon di mana pembeli mengeluarkan lebih banyak karbon daripada batas yang di tetapkan. Karbon kredit adalah “hak” yang di berikan kepada sebuah perusahaan untuk mengeluarkan sejumlah emisi gas rumah kaca atau gas rumah kaca lainnya sebagai akibat dari operasi industrinya. Satu unit kredit karbon setara dengan penurunan emisi satu ton karbon dioksida (CO2).

Banyak kredit karbon yang di jual berasal dari proyek hijau. Organisasi verifikasi seperti Verra menghitung seberapa banyak karbon yang dapat di serap oleh lahan hutan pada proyek tertentu, dan kemudian menerbitkan sertifikat kredit karbon. Perusahaan yang menghasilkan emisi di bawah ambang batas industri juga dapat mendapatkan kredit karbon.

Cara Kerja Carbon Trading

Secara umum, pasar emisi karbon saat ini di bagi menjadi dua kategori: pasar karbon sukarela (atau pasar karbon sukarela) dan pasar karbon wajib (atau pasar karbon wajib). Pasar karbon sukarela terdiri dari dua kategori ini berdasarkan mekanisme perdagangannya:

1. Skema Perdagangan Emisi atau ETS

Selain itu, di sebut sistem cap-and-trade. Karena emisi karbon yang di perdagangkan di batasi oleh pemerintah, skema ini biasanya di terapkan pada pasar karbon yang bersifat wajib. Di pasar ini, emisi yang di perdagangkan adalah untuk emisi yang akan datang. Mekanisme pasar ini melibatkan kelompok, perusahaan, dan bahkan negara.

Di awal periode, kuota, atau pembayaran, di berikan untuk mengurangi atau membatasi emisi. Peserta yang terkena pembatasan emisi harus melaporkan emisi mereka secara berkala—biasanya setiap tahun—ke lembaga yang di tunjuk. Peserta yang melewati batas pada akhir periode dapat membeli tambahan allowance dari peserta yang memiliki kuota yang tidak terpakai, yaitu kuota yang lebih rendah dari batasan, dan sebaliknya.

2. Sistem Kredit Karbon untuk Perdagangan

Ini juga di sebut sebagai carbon offset atau sistem baseline dan kredit. Di awal periode, skema ini tidak membutuhkan kuota atau allowances. Ini karena komoditi, juga di kenal sebagai kredit karbon, adalah hasil sertifikasi proyek yang mengurangi emisi karbon. Secara umum, satu unit kredit karbon setara dengan penurunan emisi satu ton karbon dioksida.

Dalam skema kredit karbon, nilai kredit di peroleh di akhir suatu periode, yang dapat di gunakan oleh peserta untuk memenuhi tujuan penurunan emisi atau mengubah posisi mereka menjadi emisi ceroboh atau neutral karbon. Namun, dalam skema ETS, nilai kredit sudah di tentukan sejak awal, sehingga kredit baru dapat di perjualbelikan tergantung pada bisnis penghasil emisi.

Manfaat Carbon Trading

Dalam hal regulasi pemerintah, perdagangan karbon lebih mudah dan lebih murah daripada membuat regulasi yang membatasi dan mengenakan pajak pada emisi karbon. Regulasi langsung akan lebih mahal dan membatasi pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh industri.

Melalui perdagangan karbon, pemerintah juga dapat dengan lebih terorganisir memantau jumlah emisi karbon yang dihasilkan negaranya. Karena itu, jumlah emisi dan kemungkinan penyerapan diukur menggunakan standar yang telah ditetapkan. Di pasar karbon, jumlah kredit karbon yang beredar pasti akan membantu dalam mengendalikan jumlah karbon yang dilepas ke atmosfer.

Selain itu, negara-negara yang berpartisipasi dalam perdagangan karbon akan melihat peluang ekonomi baru. Perdagangan karbon dapat memberikan kontribusi hingga lebih dari USD 150 miliar kepada perekonomian Indonesia karena, sebagai salah satu paru-paru dunia, Indonesia menyumbang 75–80% kredit karbon global.

Baca Juga :

***